Kategori
Artikel

Bagaimanakah Aqiqah pada masa Pra Islam?

 

Aqiqah pada Masa Pra Islam – Aqiqah adalah menyembelih kambing untuk bayi yang baru lahir. Untuk jumlahnya sendiri 2 ekor kambing untuk laki laki dan 1 ekor untuk perempuan. Aqiqah sendiri sudah ada sejak jaman islam sebelum datang menebarkan rahmatnya.

Namun sudah jelas, bahwasanya praktek aqiqah saat itu berbeda seperti yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sahabat Buraida berkata, bahwabahwasanya kami dahulu pada zaman jahiliyah, jika salah satu di antara kami dikaruniai seorang anak, maka orang itu akan menyembelih kambing dan juga melumuri kepala bayi itu dengan darah kambing.

Kemudian ketika Islam datang menebarkan rahmatnya, maka pelaksanaan aqiqah dilakukan dengan menyembelih kambing dan mencukur rambut dari sang bayi dan dilanjutkan dengan melumurinya dengan minyak wangi.

Dari sejarah aqiqah di masa pra islam dan di masa islam masuk, nampak jelas sikap Islam terhadap adat istiadat yang sudah biasa dijalankan dan berlaku di masyarakat. Sudah nampak jelas, bahwasanyaIslam telah sesuai dengan fungsi diturunkannya sebagai lambang kasih sayang dan membimbing ke arah yang benar.

Menyambut Bayi yang Lahir dan Aqiqah Berdasarkan Syariat Islam

Pelaksanaan aqiqah haruslah sesuai dengan syariat islam yang berlaku, yang sesiai denga al-qur’an, hadis, ijma” dan qiyas. Hal ini agar tidak melenceng dari apa yang pernah dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW

Hal ini dikarenakan telah banyak hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan ibadah itu sendiri. Maka dari itu di bawah ini akan dipaparkan mengenai menyambut bayi yang baru lahir juga beberapa hal mengenai aqiqah

Adzan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir
Diriwayatkan dari Abu Rafi’ yang bahwasanya dirinya pernah melihat Rasulullah membacakan adzan sholat di kedua telinga Hasan saat dilahirkan Fathimah. (HR. Ahmad juz 9 hal 230 no. 23930

Hadis yang telah disebutkan di atas juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Imam Hakim, Serta juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi dengan menggunakan lafadz yang berbeda.

Periwatannya sebagai berikut “Dari Abu Rafi’ bahwasanya nabi Muhammad SAW membacakan adzan di telinga Hasan dan Husain RA saat keduanya dilahirkan. Kemudian beliau juga menyuruh hal demikian juga.”

Sedangkan mengenai aqiqah sendiri bisa dilaksanakan saat pada hari ke 14, 21, bahkan ketika sudah dewasa sekalipun. Diriwayatakan Sahabat Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwasanya Nabi Muhamaad SAW bersabda, “Aqiqah itu disembelih di hari ke 7 atau hari ke 14 atau ke 21 (HR. Baihaqi juz 9, hal 303)

Demikianlah akhir dari pembahasan Aqiqah pada masa Pra islam dan sesudah Islam masuk menebarkan rahmatnya kepada kita semua. Dengan dibebeerkannya dalil yang menguatkan menjadikan kita semakin tenang dalam beribadah.

Semoga pembahasan Aqiqah pada masa Pra islam dan sesudah Islam bermanfaat bagi pembaca semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×
×
×
×
×
×
×
×
×
×
×