Kategori
Artikel

BAGAIMANA HUKUM AQIQAH DENGAN UANG HUTANG

HUKUM AQIQAH DENGAN UANG HUTANG

Hukum Aqiqah Dengan Uang Hutang – Hukum dari pada aqiqah adalah anjuran, yang berarti apabila tidak dilakukan, hal itu tidak menyebabkan dosa, hanya saja tidak mendapat keutamaan. Dan hukum aqiqah di anjurkan bagi siapa saja yang mampu melaksanakan aqiqah, sedangkan bagi orang yang belum mampu, tidak ada anjuran untuknya.

Hukum Aqiqah Dengan Uang Hutang – Oleh karena apabila seorang yang belum mampu memaksakan untuk melakukan aqiqah dengan cara berhutang, hal itu boleh saja asal orang yang melaksanakan aqiqah bisa membuat tempo kapan dikembalikan. Namun apabila berhutang untuk tetap melaksanakan aqiqah, sedang orang yang beraqiqah tadi belum bisa memastikan kapan kembalinya, maka lebih baik tidak perlu melaksanakan aqiqah karena hal itu hanya akan membebani pelaksana.

Baca Juga, Hukum Aqiqah Untuk Bayi Lahir Kembar

IJTIHAD ULAMA

Hukum Aqiqah Dengan Uang Hutang – Imam Ahmad berkata:

إذا لم يكن عنده ما يعق فاستقرض رجوت أن يخلف الله عليه إحياء سنة

“Kalau dia tidak memiliki harta untuk aqiqah kemudian berhutang maka saya berharap semoga Allah menggantinya karena dia telah menghidupkan sunnah.” (Al-Mughny, Ibnu Qudamah 13/395)

Namun kalau tidak memiliki penghasilan yang tetap maka jangan dia berhutang karena nanti akan memudharati yang berhutang dan orang yang menghutanginya. (Lihat Kasysyaf Al-Qina’ ‘an Matnil Iqna’, Manshur bin Yunus Al-Bahuti 2/353)

Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

وأما الاستقراض من أجل العقيقة فينظر، إذا كان يرجو الوفاء كرجل موظف، لكنه صادف وقت العقيقة أنه ليس عنده دراهم، فاستقرض من شخص حتى يأتي الراتب، فهذا لا بأس به، وأما إذا كان ليس له مصدر يرجو الوفاء منه، فهذا لا ينبغي له أن يستقرض

“Dan adapun meminjam uang untuk keperluan aqiqah maka dilihat; kalau dia bisa mengembalikan seperti seorang pegawai misalnya, akan tetapi ketika waktu aqiqah dia tidak memiliki dana, kemudian dia meminjam dana sampai datang gaji maka ini tidak mengapa, adapun orang yang tidak punya sumber penghasilan tetap yang dia bisa membayar hutang dengannya maka sebaiknya dia tidak berhutang.” (Liqa Al-Babil Maftuh, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Berikut ini keterangan syaikh Utsaimin:

Apabila tiba masa untuk mengaqiqahi anak, sedangkan pelaksana aqiqah tidak memiliki kemempuan untuk menyelenggarakannya maka Aqiqah tidak disyariatkan atasnya, karena Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 286:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala dari kebaikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari keburukan yang dikerjakannya.

Seseorang yang tidak memiliki harta gugur kewajiban haji atasnya, begitu pula gugur kewajiban berzakat atasnya maka dalam hal ini aqiqah lebih utama untuk gugur karena ketidak-mampuan seorang pelaksana. Asy-Syarh Al-Mumti’, Ibnu Utsaimin 25/227.

Allah ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ)(التغابن: من الآية16)

“Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.”

Wallahu ta’ala a’lam.

Paket Aqiqah Lengkap, Klik Sini.

REFERENSI

الوسائل حكم المقاصد

الإقراض وهو تمليك شيئ على أن يرد مثله سنة لأنه فيه إعانة علي كشف كربة فهو من السنن الأكيدة

إعانة الطالبين ٣/٤٨

ويحرم الإقتراض على مضطر لم يرج الوفاء من جهة ظاهرة فورا في الحال وعند الحلول في المؤجل

3 tanggapan untuk “BAGAIMANA HUKUM AQIQAH DENGAN UANG HUTANG”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×
×
×
×
×
×
×
×
×
×
×